Hai Bestie Salwa! Ketika berbicara mengenai hijab dan busana muslimah, banyak orang sering mengira bahwa gaya berbusana santun menutup aurat hanyalah pengaruh modern dari Timur Tengah. Padahal, kepulauan Nusantara memiliki sejarah panjang kearifan lokal dalam berbusana modest yang sangat kaya dan sarat makna filosofis, salah satunya adalah tradisi Rimpu dari Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Tradisi Rimpu telah dipraktikkan oleh para perempuan suku Mbojo di Bima sejak abad ke-17 silam, seiring masuknya syiar Islam ke Kesultanan Bima. Menggunakan sarung tenun khas Bima (*tembe nggoli*), tradisi ini menjadi bukti nyata bagaimana nilai kesantunan berpadu harmonis dengan mahakarya seni wastra tradisional Indonesia. Mari kita telusuri filosofi keindahannya!
Dua Jenis Tradisi Rimpu dalam Budaya Bima
Dalam adat masyarakat Bima, cara pemakaian Rimpu memiliki aturan khusus yang mencerminkan status sosial dan fase kehidupan perempuan:
1. Rimpu Cili (Khusus Perempuan yang Belum Menikah / Gadis)
Bagi gadis remaja yang belum menikah, Rimpu dililitkan menutupi seluruh tubuh dan kepala, dengan kain yang hanya menyisakan celah kecil di area kedua mata (menyerupai niqab atau cadar). Hal ini melambangkan perlindungan diri, kesucian, rasa malu, serta kehormatan seorang gadis dalam adat setempat.
2. Rimpu Colo (Khusus Perempuan yang Sudah Menikah)
Bagi perempuan yang telah berumah tangga atau ibu-ibu, kain sarung tenun dililitkan melingkari kepala dengan seluruh area wajah terbuka jelas (menyerupai gaya jilbab modern). Hal ini mencerminkan keterbukaan dan peran aktif ibu rumah tangga dalam kehidupan sosial bermasyarakat.
Keindahan Kain Tenun Tembe Nggoli
Kunci dari pesona Rimpu terletak pada kain sarung tenun Tembe Nggoli. Ditenun secara tradisional menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM), kain ini memiliki corak garis geometris yang kaya warna, benang yang padat namun sejuk saat dipakai, serta aroma khas pewarna alami yang memikat hati para pencinta kain nusantara.
Inspirasi Modest Fashion dari Wastra Tradisional
- Padukan Kain Tenun dengan Busana Polos: Kamu bisa mengenakan rok lilit tenun atau pashmina bermotif tenun ikat nusantara yang dipadukan dengan blus polos modern untuk menghadiri acara resmi.
- Dukung Pengrajin Lokal: Melestarikan busana bernuansa etnik adalah wujud kecintaan kita terhadap warisan leluhur sekaligus mendukung ekonomi para perempuan penenun di daerah.
Pertanyaan Seputar Tradisi Rimpu dan Wastra Modest (FAQ)
Kapan tradisi berbusana Rimpu mulai ada di Bima?
Tradisi Rimpu mulai berkembang pesat pada abad ke-17 di masa pemerintahan Sultan Abdul Kahir, penguasa pertama Kesultanan Bima yang memeluk Islam.
Bahan apa yang digunakan untuk membuat sarung Rimpu?
Kain sarung yang digunakan adalah sarung tenun khas Bima yang disebut *Tembe Nggoli*, dibuat dari benang katun pilihan dengan tenunan benang emas atau motif khas Bima.
Bagaimana cara merawat kain tenun tradisional agar warnanya tidak cepat pudar?
Cuci kain tenun menggunakan sabun khusus lerak atau sampo bayi lembut, jangan diperas di mesin cuci, dan jemur di tempat teduh yang tidak terpapar sinar matahari langsung.