Tren Tiara Kembali Ngetren: Simbol Pemberdayaan & Plesetan Egosentris

Siapa sangka, aksesori yang biasanya kita lihat di pesta kerajaan atau drama-drama kolosal, kini lagi happening banget di dunia fashion! Yup, tiara kembali naik daun, bukan cuma buat gaya-gayaan, tapi punya makna lebih dalam lho, Beauty Besties!
- Tiara bertransformasi dari simbol aristokrat menjadi statement pemberdayaan diri dan ekspresi feminin.
- Fenomena ini terlihat pada selebriti seperti Olivia Rodrigo dan dalam koleksi desainer ternama di Couture Week.
- Jennifer Behr berkolaborasi dengan Julia Hobbs menghadirkan tiara yang bisa dipakai sehari-hari.
- Kembalinya tiara menandakan pergeseran dari tren ‘quiet luxury’ ke gaya yang lebih berani dan ekspresif.
- Aksesori ini juga mencerminkan fiksasi tren fashion pada elemen ‘masa kanak-kanak’ dan konsep ‘putri’ di era digital.
- Tiara dapat diartikan sebagai simbol kemakmuran di tengah kesenjangan ekonomi, sekaligus menjadi bentuk pemberdayaan diri bagi perempuan.
Kembalinya Sang Ratu: Tiara Naik Daun Lagi!
Di tengah bisingnya dunia fashion yang nggak pernah berhenti muter, aksesori kepala yang dulunya identik banget sama acara kerajaan, sekarang malah makin sering wara-wiri di *runway* dan *street style*. Tiara, yang dulunya cuma buat kaum ningrat, kini menjelma jadi simbol self-empowerment, ekspresi diri yang unik, bahkan jadi semacam *joke* buat kita yang suka merasa jadi ‘karakter utama’ di medsos.
Dari Pesta Ulang Tahun Sampai Paris Couture Week
Contoh nyatanya nih, penyanyi pop kesayangan kita, Olivia Rodrigo (23 tahun!), pas merayakan ulang tahunnya di LA, tampilannya bener-bener kayak putri dong! Pakai gaun mini Blumarine keluaran 2004 dan sepatu *peep-toe* pink, eh, gayanya makin paripurna dikasih tiara bertabur batu permata yang gemerlap. Gaya Olivia ini bukan sekadar *hit-and-run* tren, tapi bagian dari gelombang besar di mana para *trendsetter* makin pede pakai aksesori ‘kerajaan’ ini buat berbagai momen.
Nggak cuma itu, di Paris Fashion Week Couture, Daniel Roseberry dari Schiaparelli bikin gebrakan dengan koleksi yang terinspirasi dari perampokan Louvre, lengkap sama beberapa *headpiece* yang bikin ngiler. Teyana Taylor aja kepergok pakai mahkota berlian dan mutiara yang ternyata reinterpretasi dari tiara Permaisuri Eugenie tahun 1853! Charli XCX juga nggak mau kalah, saat tur film “Wuthering Heights”, dia tampil memukau pakai gaun Erdem pink pucat plus kerudung tulle, dan tiara dari Barron London tahun 1905 yang konon punya sekitar 50-60 karat batu berharga. Beuh, makin nggak sabar kan lihatnya?
Tiara Buat Ngopi Cantik? Bisa Banget!
Nah, buat kita yang nggak ada acara *red carpet* atau *runway*, tiara sekarang juga bisa banget lho dipaduin sama gaya sehari-hari. Desainer tiara kenamaan, Jennifer Behr, kolaborasi sama penulis, editor, dan presenter asal Inggris, Julia Hobbs, buat koleksi tiara “sehari-hari” yang harganya mulai dari $498 sampai $825. Koleksi ini pertama kali nongol pas New York Fashion Week dan langsung bikin heboh!
Hobbs sendiri cerita kalau dia terinspirasi dari pencariannya tiara antik bergaya *art-deco* di situs lelang Inggris. “Aku pengen bikin tiara yang rasanya sedikit jenaka, sedikit *grungy*, dan merayakan feminitas yang spesifik banget. Pokoknya *flirty*,” ungkapnya. Kolaborasi ini disambut positif sama Behr yang memang udah lama jago bikin tiara dari berbagai material dan ukuran, selalu dengan sentuhan berani. “Tiara itu asyik, bikin orang jadi bahagia,” kata Behr.
Lebih Dari Sekadar Tren: Simbol Pemberontakan Gaya
Menurut Hobbs, tiara ini menandai pergeseran dari tren *quiet luxury* yang udah dominan banget beberapa musim belakangan. Aksesori yang *stand out* ini masuk kategori “*luxe* luxury” atau “*naughty* luxury”. “Aku pikir orang-orang lagi cari sedikit kelegaan. Fashion udah agak terlalu serius belakangan ini. Orang-orang juga lagi lihat-lihat barang *vintage*,” jelas Behr. Dia nambahin, “Kita juga lagi ngomongin soal bikin sesuatu yang kelihatannya kayak kamu ambil dari peti nenekmu.”
Tiara juga bisa dilihat sebagai langkah logis dalam evolusi obsesi fashion sama “masa kanak-kanak” dan segala atributnya, yang lagi ngetren banget di dekade 2020-an ini. Merek kayak Sandy Liang, Miu Miu, Simone Rocha, dan Cecile Bahnsen udah duluan jadi pelopor tren ultra-feminin yang muda ini, mulai dari pita, kaus kaki setinggi lutut, sepatu balet, motif bunga, rumbai, dan pastinya, tiara. Fenomena ini nyebar banget sampai ke TikTok, memunculkan berbagai *microtrend* baru.
Pakai tiara itu bisa dibilang padanan gaya dari trope “*I’m just a girl*”, apalagi pas banyak cewek muda di medsos lagi ngomongin soal “perlakuan seperti putri” dalam hubungan. Ini bisa jadi respons terhadap iklim budaya yang lagi banyak banget isu *heteropessimism* dan paparan retorika misoginis ke cowok-cowok muda.
Makna Sosial, Budaya, Sampai Psikologis
Sejarawan mode Valerie Steele berpendapat, konsep “putri” yang kekanak-kanakan tapi lagi naik daun ini punya konotasi politik, sosial, dan budaya yang kuat. “Ini soal banyak perempuan yang memilih ide feminitas gaya lama, pengen diperlakukan seperti putri, bukan setara,” katanya. Dia juga mengaitkannya sama citra feminitas yang lebih konservatif di beberapa kalangan budaya pop, terutama di Amerika.
Steele nambahin, “Ada pengerasan stereotip gender di saat yang sama kita lihat, di kalangan anak muda lain, ada semacam fluiditas gender.” Ini nunjukkin adanya konflik sosial dan budaya yang mendalam soal makna “gender.” Ketertarikan sama “putri” juga bisa dikaitkan sama keinginan banyak orang buat jadi “karakter utama” di era media sosial, di mana dapetin *followers* setia dan jadi berpengaruh jadi salah satu jalur mobilitas sosial yang tersisa.
Simbol Kemakmuran di Tengah Ketidaksetaraan Ekonomi
Di tengah kondisi ekonomi global yang lagi nggak stabil, kemunculan lagi simbol aristokrasi dan kekayaan berlimpah ini jadi tren yang menarik banget. Ketidaksetaraan kekayaan yang makin lebar di seluruh dunia bikin kemunculan tiara makin relevan. Peragaan busana mewah sama orang-orang kaya raya, kayak Jeff Bezos dan Lauren Sánchez Bezos, di pekan busana *couture*, makin nyorot kesenjangan ini.
Steele ngasih pandangan, “Ada pandangan sayap kanan, ‘Perlakukan aku seperti putri,’ tapi ini juga bisa kayak gimana orang nyebut Putri Diana sebagai putri rakyat.” Gagasan ini memungkinkan demokratisasi simbol status elit. “Kalau siapa pun bisa pakai tiara, dalam artian itu melepaskan tiara dari para miliarder yang biasanya ngeluarin duit sebanyak itu buat batu mulia,” jelasnya.
Pemberdayaan Diri di Tengah Ketidakpastian
Secara keseluruhan, masa sekarang tuh lagi berat banget buat perempuan, mulai dari dicabutnya hak reproduksi, standar kecantikan yang nggak masuk akal, sampai berita kekerasan seksual yang nggak berhenti-henti. Buat sebagian orang, pakai tiara pas lagi dandan bisa jadi simbol kecil buat ngambil kembali kendali atas diri mereka sendiri.
Jennifer Behr melihat *headpiece* ini sebagai simbol kerajaan atau kekuasaan, kayak yang diadopsi sama ikon punk kayak Courtney Love dan Vivienne Westwood. “Ada sesuatu soal pakai *headpiece* yang jenaka dan menyenangkan, tapi juga kuat,” tutupnya. Tiara, dengan segala maknanya, kini udah bertransformasi dari sekadar aksesori jadi pernyataan gaya yang sarat makna. Gimana, Beauty Besties? Tertarik buat nambahin tiara di koleksi aksesori kamu?






